Jumat, 27 September 2019

Mengambil Banyak Pelajaran dari Negeri Para Bedebah

Cover Negeri Para Bedebah

Sejujurnya novel Negeri Para Bedebah ini bukan novel yang ringan. Khususnya buat saya yang tidak terlalu suka dengan bidang ekonomi, karena di novel ini banyak sekali membahas tentang dunia ekonomi, mulai dari istilah-istilahnya, apa yang terjadi jika keputusan A, B, C diambil, sampai kejahatan apa saja yang ada di sekitar bidang ekonomi itu. Saya bahkan beberapa kali mengulang lembar-lembar awal novel ini supaya lebih paham tentang kaitan kondisi ekonomi dengan konflik yang terjadi dalam novel.

Cerita bermula ketika Thomas, si tokoh utama, harus berurusan dengan Om Liem, adik Papanya yang sudah sekian tahun dijauhinya demi menghilangkan kemarahan dimasa lalu yang sampai sekarang masih begitu membekas. Tapi keluarga tetap saja keluarga. Mau sebenci apapun Thomas pada omnya itu, tetap dia akan habis-habis an membela Om dan Tantenya sampai titik darah penghabisan. Sekalipun itu berbahaya dan bahkan mengorbankan keselamatannya sendiri. Terutama ketika dia menyadari ada yang tidak beres dengan keadaan Bank Semesta yang dikelola oleh Om Liem.

Om Liem memang menjalankan bisnisnya dengan segala cara, mulai yang baik dan benar hingga yang diluar prosedur. Thomas setuju jika Omnya itu harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya. Tapi dirinya tidak setuju jika cara yang digunakan untuk menjebloskan om nya kedalam penjara ternyata bukan hanya sekedar menjebloskan, tapi sampai menenggelamkan dalam-dalam Om Liem dan seluruh bisnisnya ke dalam lubang gelap tak berdasar. Karena Thomas tidak akan membiarkan hal buruk itu terjadi lagi untuk kedua kali. Kejadian masa lalu itu tidak boleh terulang kembali.
***


Ketika membaca novel ini saya beberapa kali mengkaitkan konflik yang terjadi dalam novel ini dengan kejadian didunia nyata. Bahkan saya sempat beberapa kali membuka diskusi dengan suami saya yang selalu tertarik dengan dunia ekonomi untuk mengkonfirmasi tentang jika ada kejadian A maka akan berdampak B. Si mas suami sampai heran karena jarang-jarang saya ngobrol membahas tentang ekonomi, walaupun tentu saja obrolan saya tentang itu sangat dangkal. Dan jawaban serta penjelasan suami saya semakin membuat saya semangat mengkait-kaitkan novel ini dengan kasus yang pernah ada. Dan suami saya hanya komentar “Ya bedalah itu kan novel fiksi”. Hahahaha

Tapi biarpun novel ini hanya novel fiksi, ada banyak sekali pelajaran berharga didalamnya. Bukan dalam bentuk quote-quote yang mudah dikutip, tapi berasal dari konflik-konflik yang terjadi dan bagaimana para tokoh menyelesaikannya. Meskipun tentu saja antara konflik dan penyelesaian yang ada sudah dibuat sedemikian rupa agar hasilnya selalu berakhir tidak mengenaskan untuk mereka yang berada di pihak yang benar, atau berada di pihak tokoh utama. Namanya juga novel ya kaan. Hahahaha

Banyak pelajaran yang bisa diambil, mulai dari bagaimana Thomas mengesampingkan ego nya, Thomas yang selalu bisa berpikir tenang ketika sedang berada dalam kondisi kritis, kawan-kawan dari klub petarung Thomas yang selalu berusaha untuk menepati janji yang sudah diucapkan, Opa yang tidak kenal lelah mengajari Thomas banyak hal sedari dia kecil, sampai Kadek, si penjaga kapal Thomas, yang paham dengan prinsip bahwa setiap orang punya urusan masing-masing dan kita tidak perlu ikut campur atau bertanya-tanya jika yang bersangkutan sudah menunjukkan gerak gerik “urus saja urusanmu sendiri”.
***


Yang membuat novel ini semakin menarik buat saya adalah karena saya selalu membayangkan adegan-adegan di novel ini seperti apa yang biasanya ada didalam film. Walaupun tentu saja deskripsinya tidak sedetail film. Terutama ketika Thomas bertanding diatas ring atau ketika Thomas membuat mobil opa jatuh tenggelam dalam Waduk didepan rumah atau ketika Thomas memiliki ide untuk loncat dari pesawat yang baru saja landing. Pastilah itu akan seru ketika bisa disaksikan langsung lewat layar kaca. Hahaha.

Meskipun ketika sampai di akhir cerita saya sedikit bingung dengan beberapa hal, tapi secara keseluruhan saya jatuh cinta dengan novel Negeri Para Bedebah karya Tere Liye ini. Dan saya langsung tidak sabar untuk membaca novel berikutnya yang berjudul Negeri Di Ujung Tanduk. Saya tidak tau apakah novel ini merupakan sambungan cerita dari Negeri Para Bedebah. Tapi saya berharap, keseruannya akan sama dengan kisah Thomas di Negeri Para Bedebah. Atau jauh lebih seru juga tidak masalah.

Cheers,

Noriko Reza

Tidak ada komentar:

Posting Komentar