Senin, 21 Agustus 2017

Menjadi Istri Siaga Saat si Mas Alergi Obat


Siapa bilang yang harus siaga itu cuma suami?
Istri juga harus siaga loh. Siaga setiap hari selama 24 jam non stop, baik untuk suami atau untuk anak-anak di rumah. Siaganya istri nggak hanya SIAP ANTAR JAGA seperti jargon yang ada pada iklan televisi. Lebih dari itu siaganya istri kepada keluarga ini harus siap untuk segala kondisi, misalnya siap bangun saat anak tiba-tiba rewel saat malam hari, siap membantu saat suami kebingungan cari barangnya yang hilang dirumah hingga siap jadi perawat saat suami tiba-tiba sakit.

Sekitar 1 atau 2 tahun yang lalu si mas suami sempat menurun kondisi kesehatannya. Bukan sakit yang parah sih awalnya, hanya flu dan demam biasa. Makanya sebagai dokter keluarga saya hanya menyarankan untuk makan dan istirahat yang cukup. Biasanya 3 atau 4 hari akan berkurang flu dan demamnya.

Sayangnya si mas waktu itu tidak menghiraukan anjuran saya dan memilih untuk segera pergi ke dokter supaya diberikan resep yang dapat menyembuhkan flu dan demamnya. Bukannya saya anti dokter, tapi memang jika sakit flu dan demam ringan biasanya yang dibutuhkan memang hanya istirahat yang cukup. Tapi memang si mas nya nggak sabar untuk segera sembuh, jadilah pergi ke dokter pilihannya.


Nah setelah mendapatkan resep dari dokter dan menebusnya saya dan si mas segera pulang kerumah untuk beristirahat. Tapi siapa sangka ternyata setelah minum obat, flu dan demamnya si mas bukan nya menghilang malah menambah penyakit baru. Nggak lama setelah minum obat dari dokter muka si mas bengkak dan mengalami sesak nafas. Beruntung waktu itu dirumah sedang ada kedua orang tua si mas, jadi kami langsung membawa mas kembali ke rumah sakit lagi.

Sesampainya di rumah sakit, bengkak di wajah si mas semakin menjadi dan nafasnya semakin sesak. Dari hasil pemeriksaan dokter mengatakan bahwa si mas ternyata alergi dengan obat yang baru saja dikonsumsinya. Bengkak dan sesak nafasnya merupakan reaksi tubuh pada alergi yang terjadi.

Dokter pun segera memberikan obat suntik untuk menetralisir alergi serta memasang selang oksigen untuk meringankan pernafasan. Selain itu dokter juga memasang beberapa alat di bagian dada untuk mengontrol detak jantung si mas. Setelah semua prosedur sudah dilakukan dan kondisi si mas mulai stabil, dokter menyarankan si mas untuk di rawat inap untuk memantau keadannya.


Saya dan mama mertua yang melihat kejadian ini hanya bisa tertegun kaget sambil melongo. Nggak menyangka kalau si mas punya alergi terhadap obat. Saya tidak membayangkan apa jadinya kalau setelah minum obat tadi si mas langsung tidur dan tidak menyadari bengkak di wajahnya. Karena ternyata efek dari alergi terhadap obat sangat mengkhawatirkan. Bahkan dulu mama mertua sempat tidak sadar juga karena alergi terhadap obat yang dimasukkan melalui cairan infus.

Saya dan si mas sama sekali tidak menyalahkan dokter yang telah memberikan resep pada pemeriksaan sebelumnya. Karena memang kami juga tidak tau jika ternyata si mas memiliki alergi terhadap beberapa jenis obat. Dan dari kejadian tersebut, dokter di UGD memberi kami beberapa informasi yang harus kami perhatikan, terutama saya, antara lain:
1.     Obat sebaiknya tidak dikonsumsi bersamaan, tapi beri jeda 5-10 menit untuk setiap jenis obat yang akan diminum. Tujuan nya untuk mengetahui apakah ada efek yang timbul setelah minum obat.
2.     Jika sudah mengetahui riwayat alergi obat, selalu informasikan kepada dokter terkait golongan obat apa yang tidak bisa kita konsumsi, karena tidak semua dokter menanyakan hal ini sebelum menuliskan resep (pengalaman pribadi kami).
3.  Catat golongan obat yang tidak bisa kita konsumsi dan simpan di dompet, ponsel atau jika memungkinkan pasang gelang/kalung penanda dengan informasi alergi. Hal ini untuk memudahkan jika terjadi kondisi darurat.
4.    Selalu perhatikan efek yang terjadi setelah minum obat. Jika yang dirasakan adalah gatal-gatal, bentol, batuk, demam, sesak nafas hingga pembengkakan, segera hentikan konsumsi obat dan konsultasikan ke dokter.

Gara-gara kejadian tersebut akhirnya si mas harus dirawat inap sekitar 3 hari di rumah sakit. Dan saya jadi perawat pribadi si mas karena pagi harinya kedua orang tua si mas harus segera pulang ke Surabaya.

Banyak pelajaran berharga dari kejadian tersebut, salah satunya saya sebagai istri jadi harus lebih perhatian lagi terhadap stock obat-obat an yang selama ini ada dirumah. Semua golongan obat yang menimbulkan alergi pada si mas saya eliminasi dari kotak obat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu saya juga jadi waspada dan cerewet saat si mas minum obat. Setelah obat tertelan saya pasti akan bilang “jangan langsung tidur, deg-deg an nggak, sesak nafas nggak”.

Karena mencegah jauh lebih baik dan lebih mudah daripada mengobati kan.

Cheers,

Noriko Reza

3 komentar:

  1. Kalau aku ke dokter, biasanya ditanya dulu. Alergi obat, nggak. Kalau nggak dokter bebas kasih obatnya.

    BalasHapus
  2. Alergi ini kl penanganannya ngga tepat emang efeknya bikin serem.. Semua kejadian ada hikmahnya ya mba, semoga semuanya sehat2 terus :)

    BalasHapus
  3. Haduh alergi obat itu bikin panik yaa..saya juga pernah, jadi ngeri sendiri lihat efeknya dibadan Mbak Noriko

    BalasHapus